Khairul Fahmi lahir di Mataram, 5 Mei 1975 sebagai sulung dari dua bersaudara. Tahun 1990 meninggalkan Mataram untuk melanjutkan studi di kota gudeg, Jogjakarta. SMA 3 Padmanaba, SMA Negeri favorit di kota itu menjadi pilihannya.
Tiga tahun kemudian lompat lagi ke Kota Pahlawan Surabaya. Program Studi Ilmu Politik Universitas Airlangga menjadi tempatnya menuntut ilmu. Kampus ini juga kemudian menjadi alamat domisilinya yang paling jelas selama beberapa tahun.
Nomaden, T4 (Tempat Tinggal Tidak Jelas), 'mbambung'. Jangan kaget kalau menemukannya sedang tidur di bangku terminal, stasiun, atau rumah sakit, baik di Surabaya atau di kota lain, kata beberapa rekan dekatnya.
Ia sangat menikmati saat-saat seperti itu. Rasanya nikmat sekali sendiri ditengah keramaian orang lalu lalang, dengan segala macam problema dan kisah hidup, katanya.
Tapi sekarang 'perilaku menyimpang' itu tak lagi dilakukannya.
Sejak punya si jagoan kecil, Shafrie Alvito Wimala Rasendriya, buah hati hasil pernikahannya dengan Tri Yuniwati, teman kulihanya dulu, hanya ada satu kata yang bisa menahannya untuk tidak cepat pulang. Liputan!
Ya. Kini Fahmi kembali ke kampung halaman. Sejak 2006 ia pulang ke Mataram, meneruskan karir dan profesi sebagai jurnalis.
Dimulai sebagai reporter kriminal untuk Media Hukum dan Kriminal BORGOL, kemudian pindah ke Harian NTB POST sebagai koordinator liputan. Juga aktif sebagai penulis lepas di sejumlah media. Cita-citanya, menjadi jurnalis investigasi yang sebenarnya.