Sisi Gelap Pendidikan, Nyandu Belajar atau Belajar ‘Nyandu’

Bagaimana rasanya menghisap ganja? Sudah berapa kali mencoba barang haram itu? Itulah sekelumit pertanyaan yang dilontarkan sejumlah wartawan di ruang pemeriksaan Direktorat Reserse Narkotika dan Obat Terlarang Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat. Sepi… Nyaris tak ada jawaban yang keluar dari mulut HI, 17 tahun. Tertunduk dan malu… hanya itu yang bisa diperbuatnya dihadapan orangtua, penyidik dan kamera para pemburu berita. Hanya karena nikmat sesaat yang membawa sengsara…

oleh: Khairul Fahmi
Ya, HI adalah seorang diantara empat pelajar sekolah menengah yang tertangkap basah saat ‘memuja bulan’ dengan berpesta Narkoba jenis ganja. Pesta Ganja itu digelar di sebuah kamar kost, yang notabene disewa oleh orangtuanya untuk mendekatkan diri dengan tempatnya belajar. Bukan untuk lebih mendekatkan diri dengan tempat transaksi atau bandar narkoba.
“Baru sekali ini mencoba, barangnyapun tidak beli, ini pemberian,” ungkapnya lirih.
HI adalah siswa pindahan dari sebuah sekolah di Sumbawa. Ia mengaku mencoba atas dasar keinginan bersama rekan-rekannya tanpa ada paksaan.
Lain lagi yang dilontarkan W Jay, 17 tahun. Dia juga tertangkap di lokasi itu. W Jay mengaku belum sempat merasakan pengaruh dari ganja yang dihisapnya.
“Baru nyoba sekali, terus saya pulang, jadi belum tahu rasanya,” ungkapnya malu-malu.
KW, juga 17 tahun, siswa sebuah sekolah menengah swasta, tak bersuara sepatahpun. Di sudut sofa ruang pemeriksaan itu ia hanya meringkuk bungkam. Nyali ‘anak baru gede’ ini seolah sirna di hadapan sekian banyak mata.
Lebih memprihatinkan lagi FL. Saat tertangkap ia masih mengenakan seragam sekolah. Dibanding rekan-rekannya, usianya lebih tua, 18 tahun. Rekan sekelas HI dan W Jay ini tak kuasa menjawab saat ditanya apakah sempat mengikuti pelajaran di sekolah atau membolos saat berpesta. Hanya bisa menundukkan muka.
Penangkapan kali ini memang mengejutkan. Banyak yang terperangah. Tak mampu berkata-kata dan hanya bertanya dalam hati. Sudah sedemikian parahkah adik-adik kita ini?
Sudah sedemikian jauh pergaulan mereka hingga menyentuh sang Bandar narkoba. Mereka tidak membeli, hanya pemberian. Bukan tak mungkin setelah mereka ketagihan mereka akan diperalat untuk mengedarkan barang haram itu di lingkungan sekolah dan rekan-rekan sebayanya. Dilihat dari barang buktinya saja, cukup mencengangkan, ganja seberat 500 gram. Entah apa yang terbersit di benak orangtua mereka. Menyaksikan anak-anak buah hati, dimana orangtua menggantungkan harapan masa depan, harus mengalami hal ini. Tentunya duduk di kursi pesakitan bukanlah harapan idaman orangtua.
Biaya pendidikan yang selangit mereka penuhi. Dengan harapan agar cerahnya masa depan dapat terwujud. Namun apa daya, yang terjadi terjadilah. Belum lagi kelar upaya lembaga pendidikan mencetak mereka menjadi kader bangsa kebanggaan orangtua. Agar mereka memiliki keterampilan mumpuni dan tangguh secara mental spiritual, mereka agaknya harus mendapat pendewasaan di balik jeruji besi.
Salahkah mereka? Jelas salah, kata Ajun Komisaris Besar Muhammad Basri, juru bicara kepolisian setempat. Menurutnya, keempat siswa itu telah tertangkap tangan melanggar pasal 78, 82 dan 85 UU Nomor 22 Tahun 1997 Tentang narkotika. Ancaman hukumannya 4-20 tahun penjara.
“Kasus ini masih kita dalami. Termasuk apakah dilanjutkan pidananya, atau kita kembalikan kepada orangtuanya untuk dibina. Mereka masih sekolah,” imbuh Komisaris Besar Ismail Bafadal, Direktur Reserse Narkotika dan Obat Terlarang.
Apakah ini semata-mata kesalahan mereka? Banyak kalangan berpendapat bahwa ini adalah potret dari suramnya wajah masa depan pendidikan di negara ini. Ini hanyalah cerminan carut-marutnya sistem pendidikan kita.
“Jangan heran kalo banyak pelajar yang berbuat kriminal. Konsep pendidikan yang ada baru di atas kertas. Nyaris tak ada yang diterapkan pada kenyataannya,” tegas Hasan Basri, Wakil Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat menyikapi kasus ini.
Menurutnya, pendidikan kita lebih ditekankan pada aspek kognitif dengan mengukur prestasi secara formal dan kuantitatif. Mengabaikan aspek afektif dan psikomotorik yang mestinya lebih ditekankan. Sebab terkait dengan kontrol kualitas perilaku seseorang, Ini menyebabkan para siswa berusaha mengejar prestasi, apresiasi dengan segala cara baik positif maupun negatif.
“Ikut tawuran, merokok di sekolah dan membolos menjadi salah satu cara untuk terkenal dan mendapat apresiasi dari teman-temannya,” jelas Hasan seraya mengingatkan bahayanya jika hal ini terus didiamkan dan ditutup-tutupi.
Ada pula pihak yang mengaitkan hal ini dengan biaya pendidikan dan anggaran yang belum mencapai 20 persen seperti diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945. Muhidin, salahsatunya. Ia seorang sarjana pendidikan. Lulus dengan predikat wisudawan terbaik di kampusnya, Universitas Muhammadiyah Mataram, beberapa waktu lalu.
Ia memilih jalan hidup sebagai aktivis Lembaga Peduli Pendidikan untuk Rakyat, sebuah lembaga nirlaba yang acap meneriakkan isu-isu pendidikan murah di Mataram. Sebelumnya, Muhidin sempat menjadi guru dan wartawan,
Tak tega, katanya saat ditanya kenapa berhenti jadi guru dan wartawan. Biaya pendidikan makin mahal. Akibatnya seolah-olah terjadi pengastaan dalam pendidikan.
“Kalo mau jadi pejabat ya harus bayar mahal, tapi kalo mau cukup terima dengan hanya jadi penjahat, ya murahlah. Sekolah ala kadarnya saja, yang penting formalitas. Kualitas jelas beda dong dengan yang berani bayar mahal,” tutur Edo, panggilan akrabnya sembari terkekeh-kekeh.
Guru tak diperhatikan kesejahteraannya. Akhirnya mencoba-coba bisnis buku dan mencari rejeki di luar sekolah. Dampaknya murid kurang diperhatikan perilakunya, apakah ada yang menyimpang atau tidak.
“Pokoknya selama murid itu tidak membolos, tidak banyak bicara, prestasi belajar cukup memuaskan, para guru sudah senang. Mereka tidak mau pusing dengan hal-hal yang terjadi di luar sekolah, yang penting selama di sekolah tidak ada masalah. Soalnya mereka sendiri sudah cukup pusing dengan masalah dapur,” ungkap Edo penuh semangat menceritakan pengalamannya.
Benarkah demikian? Apa yang disampaikan Faisal, Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Mataram, mungkin bisa menggambarkan sedikit sinyalemen tadi.
Saat didatangi wartawan, Faisal menyambut dengan ramah. Ia tak menduga hari itu wartawan datang ke ruang kerjanya yang lapang dan dilengkapi pendingin itu membawa kabar yang mengejutkan.
“Masya Allah. Saya baru dengar ini, kapan kejadiannya?” Pria ramah ini tak mampu berkata-kata lagi. Bergegas ia memanggil wakilnya yang menangani kesiswaan.
Ia mengaku tak kurang-kurang memberi wejangan kepada para siswa. Razia pun berulangkali dilakukannya. Ia berjanji akan memberi sanksi tegas. Kalau perlu dipecat dari sekolah ini, tandasnya.
“Kemampuan kami hanya sebatas jam sekolah, kami tak sanggup mengawasi siswa di luar jam itu, makanya setiap rapat komite, kami ajak para orang tua untuk lebih memperhatikan putra-putrinya,” jelasnya.
Faisal bahkan tak tahu penangkapan dilakukan saat para siswa itu seharusnya masih dalam pengawasan sekolah. Hari belum terlalu siang saat petugas kepolisian menggerebek mereka. Baru pukul 11.30 wita.
Tak beda jauh dengan Faisal, Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram Lalu Syafii juga mengaku kaget dan bingung. Ia akan segera memanggil dan minta penjelasan Faisal. Agar bisa segera bersikap atas peristiwa yang menurutnya memalukan itu.
Ternyata, kasus pelajar ini dampaknya berantai. Hari itu keempat pelajar tersebut telah berstatus tersangka. Sehari kemudian, pihak sekolah memastikan memecat dan mengembalikan mereka pada orangtua. Tak berselang lama, Dinas Pendidikan juga melakukan evaluasi. Hasilnya, Faisal diganti. Padahal pihak kepolisian saja masih menimbang langkah yang tepat agar tidak memupus masa depan para pelajar itu.
Sebuah langkah cepat. Apakah tepat? Tak jelas. Sama tak jelasnya dengan apakah kasus ini semata-mata sebuah kekhilafan yang bisa terjadi dan menimpa siapapun. Ataukah dampak dari sistem pendidikan yang mengarahkan peserta didik untuk ‘nyandu belajar’? Sehingga ketika mereka dihadapkan pada berbagai keterbatasan, akhirnya banting setir untuk belajar ‘nyandu’ saja. Auk ah! Gelap!

~ oleh khafisena di/pada 4 Maret 2008.

Satu Tanggapan to “Sisi Gelap Pendidikan, Nyandu Belajar atau Belajar ‘Nyandu’”

  1. Artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com

Tinggalkan Balasan